Pengertian dan Dasar Hukum Asuransi Syariah

MediaInstan – Bagaimana hukum asuransi syariah ini dan dari mana dasar hukum yang dipakai untuk menerapkannya pada asuransi. Yuk simak penjeasan pada pembahasan kali ini.

Hukum Syariah adalah kode moral dan hukum agama Islam. Syariah berasal dari dua sumber utama, Al-Qur’an dan Hadits. Hukum Syariah mengatur banyak aspek kehidupan termasuk: kejahatan, politik, ekonomi, seksualitas, pernikahan dan perbankan.

Asuransi syariah adalah polis asuransi yang menjamin kerugian yang timbul sebagai akibat dari kegiatan tertentu yang dilarang seperti perjudian atau konsumsi alkohol.

Menurut fatwa dari Dewan Syariah Nasional No. 21/DSN MUI/ X/2011 menyebutkan bahwa Asuransi Syariah (ta’min, takaful, tadhamun) adalah sebuah usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong antara sejumlah pihak melalui investasi berbentuk asset atau tabarru’ dan memberikan pola pengembalian guna menghadapi suatu risiko tertentu melalui akad (perikatan yang sesuai syariah).

Pengertian Dan Dasar Hukum Asuransi Syariah

Asuransi Syariah adalah jenis asuransi yang didasarkan pada hukum Islam. Hal pertama yang perlu diketahui tentang Asuransi Syariah adalah tidak sama dengan Perbankan Syariah.

Yang mengacu pada praktik perbankan yang sesuai dengan hukum syariah, tetapi yang mengacu pada polis asuransi yang sesuai dengan hukum syariah.

Baca Juga: Penjelasan Perbedaan Asuransi Syariah Dan Konvensional

Agar perusahaan asuransi berstatus syariah, ia harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti memiliki dewan direksi yang terdiri dari setidaknya 51% Muslim dan tidak termasuk bunga dari transaksinya.

Hukum Syariah adalah seperangkat aturan yang harus umat Islam ikuti. Ini mencakup banyak aspek kehidupan, mulai dari makan dan minum hingga pakaian, hubungan, perbankan, dan keuangan. Asuransi syariah adalah jenis asuransi yang menanggung risiko dalam hukum syariah.

Salah satu risiko tersebut merupakan asuransi silang atau “cross-syariah” yang berarti mencakup kerugian yang tertanggung oleh pihak Islam dan non-Islam jika terjadi kerugian. Panduan penting tentang hukum asuransi syariah dapat membantu Anda memahami dasar-dasar topik ini.

Apa Hubungan Hukum Syariah dengan Asuransi?

Hukum Islam adalah hukum agama yang mencakup banyak aspek kehidupan, tidak terkecuali aspek keuangan. Hukum Asuransi Syariah telah mengembangkan bentuknya sendiri yang berbeda dari asuransi konvensional dalam banyak aspek.

Pertama dan terpenting, hukum Syariah tidak mengizinkan perjudian atau spekulasi. Inilah sebabnya mengapa industri asuransi di negara-negara Muslim harus berbeda dari apa yang kita lihat di Barat.

Misalnya, asuransi Islam tidak memiliki bentuk asuransi jiwa atau polis wakaf karena itu merupakan bentuk perjudian.

Kedua, hukum Syariah melarang Muslim membayar atau menerima bunga pinjaman, itulah sebabnya sebagian besar negara Muslim tidak memiliki bank konvensional. Artinya, tidak ada rekening tabungan atau giro karena semuanya adalah produk berbasis bunga.

Penjelasan Hukum & Asuransi Syariah untuk Non-Muslim

Hukum Syariah adalah seperangkat hukum agama yang mengatur kehidupan umat Islam. Hukum-hukum ini didasarkan pada Al-Qur’an, kitab suci Islam.

Hukum syariah mempengaruhi asuransi dalam banyak hal. Misalnya, hal itu dapat berdampak pada apa yang dicakup oleh asuransi atau berapa banyak pertanggungan yang bisa Anda dapat.

Hal ini juga mempengaruhi bagaimana perusahaan asuransi menghitung premi dan kerugian. Hukum syariah bukanlah seperangkat aturan tetap melainkan pedoman bagi umat Islam untuk menjalani kehidupan mereka sesuai dengan ajaran Islam.

Artinya, terdapat banyak penafsiran dan perbedaan pendapat di antara para ulama tentang apa yang wajib oleh hukum syariah dan apa yang tidak, sehingga sulit bagi perusahaan asuransi untuk mengetahui bagaimana menerapkannya dalam praktik bisnis mereka.

Baca Juga: Bagaimana Memilih Asuransi Mobil Yang Baik Dan Benar

Selain fatwa ulama yang telah tersebut di atas, ada beberapa fatwa lain yang menjadi dasar hukum asuransi syariah ini berjalan di Indonesia.

  1. Fatwa No: 21/DSN-MUI/X/2001 perihal Pedoman Umum Asuransi Syari’ah.
  2. Fatwa No: 50/DSN-MUI/I/III/2006 perihal akad Mudhârabah Musytarakah.
  3. Fatwa No: 51/DSN-MUI/III/2006 perihal Akad Mudhârabah Musytarakah Pada Asuransi Syariah.
  4. Fatwa No. 52/DSN-MUI/III/2006 perihal Akad wakalah bi al-ujrah pada Asuransi dan Reasuransi Syari’ah.
  5. Fatwa No: 53/DSN-MUI/III/2006, perihal Tabarru’ pada Asuransi Syari’ah.

Perbedaan Faktor Risiko Antara Asuransi Konvensional vs Syariah

Ada banyak faktor risiko yang membedakan antara asuransi konvensional dan syariah. Perbedaan ini mencakup cara penghitungan premi, jenis risiko yang mereka tanggung, dan cara pembayaran Anda lakukan.

Perbedaan pertama antara asuransi konvensional dan syariah adalah cara penghitungan preminya. Beberapa perusahaan menghitung premi berdasarkan usia seseorang, kondisi kesehatan, dan pekerjaan sementara yang lain memperhitungkan jenis mobil yang mereka kendarai atau nilai kredit mereka.

Perusahaan asuransi konvensional sering mengenakan tarif yang lebih tinggi untuk orang yang merokok atau pernah menderita penyakit sebelumnya.

Perusahaan asuransi syariah mendasarkan tarif mereka pada prinsip-prinsip agama daripada pada karakteristik pribadi seperti jenis kelamin atau pekerjaan. Perbedaan kedua adalah jenis risiko apa yang tertanggung oleh masing-masing jenis asuransi.

Bagaimana Keuangan Islam Memainkan Semua Ini?

Keuangan Islam adalah sistem perbankan dan pinjaman yang mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum Islam. Ini melarang bunga dan spekulasi, dan mendorong bagi hasil.

Sektor keuangan Islam global telah tumbuh lebih dari lima kali dalam dekade terakhir, dari $1 triliun pada tahun 2006 menjadi $5 triliun pada tahun 2016. Hari ini, mewakili 2% dari PDB global, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Hal itu termasuk juga pada sektor asuransi. Karena itulah hukum asuransi syariah penting untuk mengatur kemaslahatan umat Islam.

Baca Juga: Dampak Saham BBRI Turun Bagi Investor & Cara Mengembalikan Modal

Pertumbuhan tersebut terdorong oleh negara-negara Muslim seperti Malaysia dan Indonesia tetapi juga di luar negara-negara Muslim termasuk China, India dan Rusia.

Kesimpulan

Hukum Syariah adalah hukum agama Islam yang wajib bagi umat Islam. Ini adalah dasar yurisprudensi Islam dan berasal dari dua sumber: Quran dan Sunnah.

Mengapa hukum asuransi syariah penting bagi Anda, dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi kehidupan Anda dalam beberapa cara.

Kata “Syariah” berasal dari bahasa Arab yang berarti “jalan menuju air.” Nama ini tersemat karena air merupakan salah satu bekal terpenting bagi kehidupan manusia.

Inilah sebabnya mengapa Islam, yang merupakan agama yang merujuk pada kata ini, mengajarkan orang-orang untuk berhati-hati dalam menghemat air dan menemukan cara untuk lebih berkelanjutan dengannya.

By Candra